Jakarta (ANTARA) – Tinggal di negeri agraris tapi kadang masih kesulitan pangan? Pasti ada yang belum tepat. Padahal kita berada di hamparan alam nan subur, di mana setiap orang bisa menanam dan menghasilkan pangan _minimal untuk kebutuhan sendiri. Jumlah penduduk Indonesia saat ini sekitar 284,43 juta jiwa (BPS, 2025) dengan jumlah petani berdasarkan data Sensus Pertanian 2023 hanya 29,36 juta. Artinya dalam hitungan sedikit serampangan, kurang dari 30 juta unit usaha pertanian harus memberi makan bagi 284 juta orang. Tentu jumlah yang timpang, apalagi bila ditelisik bahwa lahan pertanian terus menyusut dan jumlah petani yang berkurang seiring berjalannya tahun. Sekitar 34,58 juta hektare lahan tersedia untuk pertanian, namun angka ini terus mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan menjadi non-pertanian seperti permukiman dan industri. Lahan sawah, mengalami penyusutan sekitar 110.000 hektare per tahun. Apakah dengan begitu predikat kita sebagai negara agraris perlu ditinjau ulang? Tentu sayang. Dari pada harus mempertanyakan atau meninjau ulang, pastinya lebih baik memperbaiki ekosistem pertanian untuk memantaskan diri tetap menyandang status masyarakat agraris. Menjadi masyarakat agraris adalah label bergengsi, karena mencerminkan kalangan masyarakat yang sehari-hari mengakrabi bumi, menginjak dan bersentuhan dengan tanah dan memuliakan alam. Gaya hidup yang selaras dengan alam akan membuahkan kesejahteraan. Karena alam akan “memberi” sebaik kita memperlakukannya. Jika kita bergumul dengannya, bercocok tanam lalu merawatnya penuh dedikasi, maka alam juga akan menghasilkan panen berlimpah dengan bahan pangan yang berkualitas bagus dan menyehatkan. Sebaliknya, bila manusia zalim padanya, menutup lahan pertanian dengan beton, atau memaksa tanaman tumbuh lebih cepat dengan berbagai obat kimia yang merusak kesuburan tanah, maka balasan yang pedih pada saatnya akan datang. Berkurang dan rusaknya lahan pertanian, gagal panen, atau waktunya panen malah diterjang banjir, itu barulah sedikit peringatan dari alam akibat tak memperhatikan keselarasan hidup dengannya. Oleh karena setiap orang membutuhkan makan dan kebutuhan pangan merupakan salah satu pengeluaran utama dalam daftar belanja keluarga, mengapa tidak memikirkan solusi jangka panjang agar tak mengalami kesulitan dalam menjangkau bahan pangan. Mengingat jumlah orang yang menggeluti usaha pertanian relatif sedikit, sehingga kita harus bergantung pada yang minoritas itu. Kemudian keberadaan ladang pertanian yang tidak merata di setiap wilayah, membuat masyarakat yang membutuhkan komoditas tertentu harus menanti distribusi dari daerah lain. Rantai distribusi yang _tak jarang_ panjang menimbulkan biaya tinggi, dan turut berpengaruh pada harga barang. Belum lagi fluktuasi harga yang lazim terjadi pada momen hari-hari besar, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, Hari Natal dan lainnya. Apakah berbagai kendala ketersediaan dan keterjangkauan pangan itu terus diizinkan mengganggu kesejahteraan kita? Apakah komoditas pangan yang beberapa di antaranya kadang tiba-tiba langka atau harganya naik tak masuk akal, kita anggap lumrah karena sudah biasa terjadi? Sebagai negara agraris sepantasnya kita memiliki ketahanan pangan yang kuat, tidak perlu mengalami gejolak isu pangan kecuali karena kejadian luar biasa. Berbagai versi Untuk tetap pantas menyandang gelar sebagai negara agraris dengan masyarakat yang sejahtera berkecukupan pangan, perlu upaya bersama dalam memperbaiki ekosistem pertanian. Masing-masing bisa beraksi sesuai kapasitas. Pemerintah memperbaiki regulasi ramah petani, melalui Kementerian Pertanian melakukan pembinaan dan penyuluhan serta pendampingan petani, melalui Bulog memastikan kecukupan stok juga pemerataan distribusi dan seterusnya. Para pengusaha di bidang industri pertanian menjalankan usaha secara sehat dengan manajemen yang baik, sehingga semua pihak diuntungkan. Perusahaan untung, mitra petani merasa diapresiasi atas jerih payahnya dengan harga pembelian hasil panen yang menyenangkan, dan sampai ke pasar konsumen memperoleh harga terbaik. Dengan begitu semua bahagia karena tidak ada yang merasa dipermainkan dan dicurangi dalam rangkaian rantai pasok pangan. Jika hal ideal itu masih sulit diwujudkan karena menyangkut nawaitu dan perilaku banyak pihak, perbaiki saja dari apa yang bisa kita lakukan. Yaitu menyemarakkan budaya bertani. Tidak semua orang harus menjadi petani yang memiliki unit usaha pertanian. Tapi bisa bertani dalam skala sesuai kemampuan masing-masing: – Pemuka masyarakat. Dapat menggerakkan warga sekitar untuk memanfaatkan lahan kosong di lingkungannya, bercocok tanam komoditas pangan, dikelola dan dirawat bersama, kemudian ketika panen dibagi dan dinikmati ramai-ramai. Kedengarannya indah… – Warga kota. Keterbatasan lahan bukan halangan untuk tetap dapat bercocok tanam. Masyarakat urban bisa berinovasi dalam bertani di tengah kepungan bangunan beton. Konsep kebun vertikal biasanya diterapkan pada rumah-rumah di perkotaan yang tidak memiliki cukup lahan untuk menanam. – Pemuda melek teknologi. Kalian bisa mengubah petani menjadi profesi bergengsi dengan penerapan teknologi di bidang pertanian. Dengan teknologi segalanya menjadi lebih mudah dan efisien, baik dari segi biaya, waktu dan tenaga. Bertani dengan teknologi sering disebut pertanian cerdas (smart farming) mengacu pada penggunaan berbagai teknologi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan dalam kegiatan pertanian. Sejumlah contoh seperti penggunaan mesin pertanian modern, drone untuk pemantauan lahan, sistem irigasi cerdas, serta sensor tanah dan cuaca. – Permakultur. Juragan tanah yang memiliki rumah dengan pekarangan luas, bisa membangun rancangan sistem kehidupan yang berkelanjutan. Sistem yang berfokus pada kerja sama dengan alam _bukan melawannya_ (buah pikir Bill Mollison) untuk mencapai produksi pangan yang efisien dan ramah lingkungan. Bertujuan menciptakan sistem pertanian dan permukiman mandiri. Desain sistemnya terintegrasi mirip dengan ekosistem alami, di mana semua elemen saling mendukung dan siklus alami terjaga. Salah satu contoh konsep permakultur seperti sistem irigasi Subak dan teraseringnya di Bali yang memiliki kekhasan dan daya tarik tersendiri. Versi mini Jika pun tidak memiliki hal-hal di atas (teknologi+lahan luas) jangan buru-buru patah arang. Ketiadaan teknologi membuat aktivitas bertani menjadi cara untuk mengakrabi bumi, bercocok tanam secara manual menggunakan segenap anggota badan yang telah Tuhan anugerahkan untuk kita. Dengan tanah pekarangan seadanya, kita masih bisa seseruan mencangkul, mencakar-cakar tanah dengan tangan untuk sekadar menanam cabai yang sesekali jadi pemicu inflasi, atau tomat yang kala berbuah dan matang tampak ranum sedap dipandang mata. Bertani di pekarangan rumah bukan hanya perkara mengurangi uang belanja karena apa-apa harus beli, melainkan mampu mendatangkan kepuasan hati, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Bertani meski dalam skala mini, membuat kita terlibat dalam proses menanam, merawat, hingga memetik buah atau hasilnya. Berlanjut dengan proses memasaknya di dapur untuk kemudian dihidangkan ke meja makan dan menyantapnya bersama keluarga. Dengan mengikuti proses panjang hingga menu makanan terhidang, mengajarkan kita untuk makan berkesadaran. Hal baik yang dapat ditularkan pada segenap anggota keluarga bahkan tetangga. Setiap suapan makanan ada cerita di baliknya, dari mana nasi
Membangun generasi emas dari batas negeri melalui MBG
Natuna (ANTARA) – Pagi itu, 11 Juni 2025, suasana di jalanan wilayah batas negeri terasa berbeda dari biasanya, karena kendaraan bermotor roda tiga berwarna merah putih yang dilengkapi dengan kotak tempat barang di bagian belakang, kerap terlihat melintas. Kendaraan yang dimodifikasi, seperti lori kotak itu terdapat tulisan “Badan Gizi Nasional”, lengkap dengan logo burung Garuda yang gagah di bagian depan dan belakang kotak, sementara di sisi kanan kirinya tercetak jelas tulisan “Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi” (SPPG). Kendaraan itu menempuh rute ke sejumlah sekolah dasar (SD) dan satu sekolah menengah pertama (SMP) di ibu kota Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Kecepatannya tidak lebih dari 60 kilometer per jam, cukup perlahan, mungkin agar seluruh muatan tetap stabil dan aman. Di sepanjang perjalanan, warga memperhatikannya dengan penuh rasa penasaran, karena pemandangan seperti itu baru mereka lihat. Setibanya di halaman salah satu sekolah, para siswa yang berada di kelas mengintip dari balik jendela. Mereka saling berbisik, menunjuk, dan menebak-nebak isi dari kotak di kendaraan tersebut, namun suasana kembali tenang, usai guru meminta mereka kembali fokus belajar. Begitu bel istirahat berbunyi, para siswa langsung berhamburan keluar kelas dan mendekati petugas yang sedari tadi mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak kendaraan. Di hadapan siswa, lima wadah logam berwarna perak terus diturunkan dengan perlahan oleh petugas, untuk diletakkan di meja panjang yang telah disiapkan oleh pihak sekolah. Meja itu menjadi tempat singgah sementara bagi wadah-wadah yang tertutup dan tertumpuk rapi serta diikat dengan tali rafia untuk menjaga kestabilan dan benturan dengan benda asing selama perjalanan. Beberapa siswa tampak antusias membantu petugas menyusun wadah-wadah tersebut. Bagi mereka, ini bukan hanya jam istirahat biasa. Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu. Menurut Kepala SPPG Batu Hitam, Kabupaten Natuna Lutshia Widi Febiana, wadah-wadah logam itu berisi menu makanan bergizi yang merupakan bagian dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Setelah semua makanan diturunkan, para siswa kembali ke kelas. Guru dibantu beberapa siswa membawa setiap wadah ke ruang kelas dan meletakkannya di meja, tepat di hadapan para siswa lainnya yang duduk rapi dengan tangan terlipat di atas meja. Sebelum makan dimulai, guru meminta salah satu siswa untuk memimpin doa. Dengan penuh semangat dan senyum malu-malu, beberapa anak membuka kedua tangan dan mengangkatnya ke atas, sementara yang lain menutup kedua tangan dan melipat seraya komat kamit. Doa singkat itu seperti simbol syukur atas perhatian negara terhadap mereka. Usai berdoa, para siswa tidak langsung makan, namun mengajak guru makan bersama. Sebuah momen kecil yang menunjukkan kehangatan dan rasa hormat yang tinggi. Seperti anak-anak pada umumnya, mereka melirik ke kiri dan kanan, ingin tahu isi wadah temannya. Seorang siswa terdengar berseru, “Sama ya. Aku juga dapat nasi, ayam, sayur, tahu, sama semangka.” Setelah makan, para siswa mencuci tangan dan menyusun wadah-wadah tersebut. Mereka menumpuk lima wadah menjadi satu susunan dan mengikatnya kembali dengan tali rafia, seperti semula. Dengan senyum yang tidak kunjung pudar, beberapa siswa membawa wadah itu menyusuri lorong sekolah menuju meja di depan ruang guru, tempat petugas semula menurunkannya. Di sepanjang jalan, mereka bercerita dengan riang mengungkapkan rasa bahagia dan harapan agar makanan bergizi itu datang lagi, esok hari dan terus terlaksana hingga nanti.